Kitab Tafsir al-Qur'an

Al Qur’an diturunkan untuk kemaslahatan manusia. Untuk mengejawantahkan butuh penafsiran. Melalui kitab tafsir-lah kita dapat mengetahui isi kandungan Al Qur’an. “Ulama adalah pewaris para nabi.” Demikian nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Dengan perantara para ulama kita masih bisa menemukan kilauan mutiara-mutiara ilmu. Semua itu bisa kita dapatkan lewat torehan tinta emas para ulama pada lembaran kitab yang mereka susun.

Berbagai disiplin ilmu telah disajikan dalam kitab-kitab mereka. Mulai dari ilmu tafsir, hadits, fiqh, sejarah, bahasa dan sejumlah ilmu lainnya. Ilmu tafsir adalah salah satu cabang ilmu terpenting dalam Islam. Dengan mempelajari ilmu tafsir, kita mampu memahami, menghayati, dan mempermudah kita dalam menerapkan apa sesungguhnya maksud Allah dengan firman-Nya tersebut. Baik untuk mentaati perintah Allah ataupun demi menjauhi larangan-Nya.

Berikut ini beberapa nama kitab tafsir beserta pengarang dan penjelasannya secara singkat.

Kitab Tafsir Klasik

1. Kitab Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, karya Imam at-Thabari
Nama aslinya adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid at-Thabari. Nama at-Thabari sendiri adalah nisbah kepada daerah asal, yaitu negeri Thabaristan. Selain mufassir (ahli tafsir), ulama yang lahir di Baghdad (224H) ini juga dikenal sebagai muhaddits (ahli hadits) dan mahir dalam ilmu sejarah.
Sebagai pecinta ilmu, at-Thabari telah berkelana menuntut ilmu ke berbagai negeri, seperti Iran, Iraq, Suriah, dan Mesir. Terakhir ia menetap di Baghdad hingga akhir hayatnya (310H).

At-Thabari berhasil menyusun kitab tafsir, Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Kitab ini berupa tafsir lengkap al-Qur'an 30 juz. Karya at-Thabari ini begitu monumental dan sering dijadikan rujukan utama para ahli tafsir dalam menafsirkan al-Qur'an. Imam an-Nawawi pernah memuji kitab ini. “Seluruh umat telah sepakat bahwasanya tiada kitab tafsir yang sebanding dengan tafsir at-Thabari,” puji an-Nawawi.

Selain keistimewaan lengkap 30 juz, kitab at-Thabari memiliki gaya yang khas dalam menafsirkan ayat. Diantaranya adalah bersandar kepada riwayat para shahabat dan tabi'in. Terutama pendapat yang rajih (kuat). Dari segi bahasa, at-Thabari mempermudah pembaca dengan menjelaskan nahwu dan sharf (tata bahasa). Berkaitan dengan ayat-ayat ahkam (hukum), at-Thabari menjelaskan hukum-hukum fiqh disertai dalil para madzhab. Oleh penerbit Dar al-Hijr, Kairo (cet. 2001) kitab Tafsir at-Thabari dicetak dalam 25 jilid.

2. Kitab tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, karya al-Qurthubi (671H)
Penulisnya adalah seorang mufassir sekaligus ahli fiqh, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Anshari al-Qurthubi. Menilik nama terakhirnya al-Qurthubi, bisa diketahui jika beliau berasal dari kota Cordova, Spanyol.

Karya Imam al-Qurthubi ini termasuk diantara deretan kitab-kitab tafsir yang mu'tabar (diakui) di kalangan para ahli tafsir. Dalam tafsirnya, al-Qurthubi menghilangkan beberapa kisah yang tidak jelas periwayatannya. Sebaliknya, ia menekankan istinbath (metodologi pengambilan hukum) dari dalil-dalil dalam al-Qur'an. Termasuk di dalamnya menyebutkan berbagai hukum nasakh dan mansukh (hukum yang dihapus dan yang menggantikannya), menerangkan jenis qira'ah (bacaan al-Qur'an) disertai nahwu dan sharf (tata bahasa) dan i'rabnya (uraian bahasa).
Sebagai tafsir yang memprioritaskan masalah hukum, al-Qurthubi banyak mengangkat masalah hukum-hukum fiqh. Menjelaskan secara detail dan objektif perkataan para ulama tanpa mendukung sebuah madzhab tertentu. Olehnya ia dianggap sebagai rujukan utama di samping tafsir khusus tentang ayat ahkam (masalah hukum), khususnya berkaitan dengan masalah hukum dalam al-Qur'an. Penerbit Dar Ihya wa at-Turats, Beirut mencetak tafsir al-Qurthubi ini dicetak dalam 20 jilid.

3. Kitab tafsir al-Quran al-Adzhim, karya Ibnu Katsir (705-774H)
Murid Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah ini tentu tak asing lagi di kalangan umat Islam. Berbagai karyanya telah tersebar dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Nama aslinya sendiri adalah Imaduddin Abu al-Fida Ismail bin Amru bin Katsir.
Lazimnya para ulama, Ibnu Katsir adalah seorang muarrikh (ahli sejarah), faqih (ahli fiqh), muhaddits, dan mufassir. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memanjakan pembacanya dengan gaya bahasa yang sederhana. Uslub mudah dipahami dan saling berkaitan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

Ibnu Katsir juga mengambil pendapat para shahabat dalam menjelaskan penafsiran ayat. Tidak sekadar itu, namun ia menjelaskan pendapat yang rajih (kuat) diantara beberapa pendapat tersebut. Termasuk keunggulan lainnya adalah hukum-hukum fiqh diterangkan secara detail dengan memasukkan Hadits-hadits berkenaan dengan itu. Oleh penerbit Dar at-Thayyibah, Riyadh kitab tafsir Ibnu Katsir dicetak dalam delapan jilid.

4. Kitab tafsir Fathu al-Qadir, karya Imam as-Syaukani (1173-1250H)
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah bin as-Syaukani. Berbeda dengan remaja lainnya, sejak kecil ia telah dididik dan ditempa oleh beberapa orang guru. Tak heran dalam usia muda as-Syaukani telah terampil dan menguasai beberapa cabang ilmu. Mulai ilmu tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh, sejarah dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Bahkan ia sudah menjadi tempat bertanya oleh masyarakat ketika usianya belum genap 20 tahun.

Tafsir Fathu al-Qadir hanyalah satu diantara deretan karya-karya Imam as-Syaukani. Puluhan lainnya berserakan di berbagai disiplin ilmu. Salah satunya adalah kitab Nail al-Authar, berisi hadits-hadits yang berkenaan dengan hukum fiqh Islam.
Berbeda dengan tafsir lain, as-Syaukani berhasil menggabungkan dua metodelogi penulisan tafsir dalam Fathu al-Qadir. Yakni antara tafsir bi al-ma'tsur (berdasarkan riwayat hadits dan atsar shahabat) dan tafsir bi ar-ra'yi (dengan akal dan ijtihad).

Selain keistimewaan di atas, kitab ini juga "unggul" dalam hal referensi. Diantara ulama besar yang menjadi sandaran as-Syaukani adalah an-Nuhas, Ibnu Athiyyah, at-Thabari, al-Qurthubi, dan Imam as-Suyuti. Seluruh ulama tersebut adalah para pakar di bidang ilmu tafsir. Kitab Fathu al-Qadir dicetak dalam tampilan standar. Bentuk kitabnya tidak terlalu besar dan juga tidak teramat tipis. Oleh penerbit Dar al-Hadits, Kairo, kitab Fathu al-Qadir dicetak dalam bentuk 5 jilid.

a. Kitab Tafsir Kontemporer

1. Kitab tafsir al-Manar, karya Muhammad Rasyid Ridha (1282-1354H)
Nama lengkapnya Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Muhammad Syamsuddin. Sejak kecil ia ditempa oleh para ulama besar di tanah kelahirannya, di wilayah Tripoli-Syan, Lebanon Utara. Beranjak dewasa, Rasyid Ridha memutuskan hijrah ke Mesir. Di sana ia bertemu dengan Muhammad Abduh, seorang tokoh pergerakan yang sejak dulu dikaguminya.
Sejak itu Rasyid Ridha berguru kepada Muhammad Abduh. Dengan tekun ia mengikuti pengajian tafsir Muhammad Abduh di Universitas al-Azhar, Mesir. Hal ini berlangsung terus hingga Muhammad Abduh wafat. Sebelumnya beberapa tulisan tentang pelajaran tafsir telah dipublikasikan di majalah al-Manar, sebuah majalah yang menjadi corong pemikiran dan dakwah Muhammad Abduh dan muridnya Rasyid Ridha.

Ditinggal sang guru membuat Rasyid Ridha semakin bersemangat untuk berkiprah di dunia dakwah. Diantara kontribusinya yang paling signifikan adalah lahirnya kitab tafsir al-Manar. Ibarat dua sisi mata uang, tafsir ini melengkapi tulisannya di majalah al-Manar sebelumnya.

Dalam penulisannya, tafsir al-Manar memiliki beberapa keistimewaan dibanding kitab-kitab tafsir sebelumnya. Dengan uslub yang fasih, ia menafsirkan al-Qur'an dengan bahasa yang jelas dan mudah dicerna. Rasyid juga menghindari riwayat Israiliyyat (riwayat yang tidak jelas) terutama berkenaan dengan kisah para nabi dan umat terdahulu.

Bermula dari awal al-Qur'an, Rasyid Ridha memulai tafsirnya hingga surah Yusuf: 101. Sayang sang ajal keburu menjemput Rasyid Ridha, ia tidak sempat menyempurnakan tafsirnya hingga 30 juz. Selanjutnya penulisan ini dituntaskan oleh Bahjat al-Baithar. Meski demikian kitab tafsir al-Manar tetap memakai nama Rasyid Ridha. Ia dicetak dalam bentuk 12 jilid besar.

2. Fi Dzhilal al-Qur'an, karya Sayyid Quthb (1326-1386H)
Nama lengkapnya adalah Sayyid Quthb Ibrahim Hasan Syadzuli. Lahir di Propinsi Asyuth, Mesir 9 Oktober 1906. Bagi Sayyid Quthb, dunia tulis menulis bukanlah hal baru. Sejak muda ia telah banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar Mesir. Ia sendiri lulus dari Universitas Darul Ulum (1993) dengan gelar License (Lc) di bidang sastra.

Untuk tafsir Fi Dzhilal al-Qur'an, Sayyid Quthb memulai penulisannya ketika majalah Muslimun memintanya menulis. Selang berapa lama cikal bakal tafsir tersebut diterbitkan secara berkala oleh pihak majalah di Kairo. Bahkan Sayyid Quthb berhasil meyelesaikan hingga 16 juz, sebelum akhirnya mendekam di penjara rezim pemerintah kala itu.

Selama dalam penjara, semangat dakwah Sayyid Quthb makin bergelora. Sayyid Quthb merasa menyatu dengan apa yang ia tulis dalam tafsirnya. Dirasakan hidupnya benar-benar di bawah naungan cahaya al-Qur'an.

Dalam muqaddimah kitabnya, Sayyid Quthb berkata: Bahwasanya tiada kebaikan di muka bumi, tiada kesenangan dan ketenangan bagi manusia, tiada keberkahan, tiada kesucian, tiada keseimbangan antara sunnah kauniyah dengan fitrah kehidupan kecuali satu. Hanya kembali kepada ajaran dan tuntunan Allah Ta'ala.

Sebagai karya yang lahir dari balik penjara. Tafsir ini didominasi ajakan untuk kembali kepada indahnya ajaran Islam. Sayyid Quthb berhasil menorehkan ilmunya dengan menafsirkan al-Qur'an dalam gaya bahasa yang indah. Tutur kata yang puitis, susunan kata yang apik membuat kitab ini sangat mudah dinikmati oleh pembaca. Dar-as-Syuruq, Beirut mencetak kitab Tafsir fi Dzhilal al-Qur'an ini dalam 6 jilid. * (Masykur, Artikel ini juga dimuat di majalah Suara Hidayatullah).
0 Responses

Poskan Komentar

Abu Jaulah's Blog. Diberdayakan oleh Blogger.